;
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Minggu, 14 Oktober 2012

SOSOK AL GHAZALI

Figur dan Perjalanan Hidup Al Ghazali Menuju Tasawuf

Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, lahir di Ghazaleh--sebuah kota kecil dekat Thus di Khurasan --pada tahun 450 H/1058 M, 5 empat setengah abad setelah hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah (W. Montgomery Watt, Muslim Intelectual A Study of Al-Ghazali, Edinburgh at The University Press, 1963, hal. 19) dan kira-kira bersamaan dengan pengangkatan Sultan Alp Arselan ke singgasana Saljuk. Ia meninggal dunia pada usia sekitar lima puluh lima tahun, pada tahun 1111 M. ( W. MontGomery Watt "Ghazali, Abu Hamid Al-" dalam Mircea Eliade (Ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol 5, Macmillan Publishing Company, New York & London, hal 541) di Tabaran, sebuah kota dekat Thus. ( Abdul Qayyum, Letters of Al-Ghazali, diterjemahkan oleh Haidar Baqir, Surat-surat Al-Ghazali, Cet. V, Mizan, Bandung 1993, hal. 1) Al-Ghazali menghabiskan beberapa waktu pada salah satu sekolah agama di daerahnya dan belajar fiqh serta dasar-dasar ilmu Arab kepada Ahmad bin Muhammad al-Radzkani pada tahun 465 H/1073. ( Umar Farrukh, Tarikh al-Fikr al-Araby, Dar al-Ilm Li al-Malayin, Beirut, hal. 485; Pengantar Ahmad Syamsuddin dalam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Majmu'at Rasail al-Imam al-Ghazali : Al Munqidz min al-Dlalal, Qanun al-Ta'wil, Al Ahadits al-Qudsiyah, Dar al- Kutub al--Ilmiyah, Beirut, Libanon, Cet. I, 1988, hal 5.) Pada saat berusia kurang dari dua puluh tahun, ia pindah ke Jurjan untuk belajar kepada seorang Imam madzhab Syafi'i, ahli hadits, dan ahli sastra yaitu Imam al-Allamah Abu Nashr al-Isma'ili Al Jurjani (404-477 H). Dari Syekh Ismail, Ghazali menuliskan sejumlah komentar dalam masalah Fiqh. ( Ibid, hal. 485) Di Jurjan, ia mulai menuliskan ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya. (Thaha Abd al Baqi Surur, op.cit., hal. 19) Namun, di tempat ini, tampaknya al-Ghazali tidak mendapat keun-tungan rasional dari apa yang ia tulis dan ia dengar. Dia mem-baca dan menulis dengan cepat tanpa memberikan perhatian. (Lihat Thaha Abd al Baqi Surur, op.cit., hal. 19-20. Dalam buku ini dikisahkan penuturan al-Ghazali: "Suatu saat ka-mi dirampok (Barangkali pada saat kepulangannya dari Jurjan, pen.). Para perampok merampas semua yang kami dan membawanya pergi. Akan tetapi, kami selalu mengikuti ke mana mereka pergi. Pemimpin perampok tersebut marah besar dan mengatakan: "Pulang-lah kamu. Kalau tidak kamu akan binasa". Saya jawab: "Saya mohon Anda mengembalikan catatan kuliah saya". Dia bertanya: "Yang manakah catatan kamu?". Saya jawab: "Yang ada dalam bung-kusan itu. Demi untuk mendengarkan, menulis dan mengetahui ilmu itulah saya pergi mengembara". Serta merta Sang pemimpin peram-pok itu tertawa berderai seraya mengejek : "Bagaimana kamu bisa mengetahui ilmunya, padahal buku itu sudah kami rampas dan kamu tidak bisa mengetahuinya lagi." Kemudian dia memerintahkan sebagian anak buahnya mengembalikan bungkusan itu kepada saya. Peristiwa itu menimbilkan pengaruh yang begitu besar dalam jiwa saya...Ketika sampai di Thus, saya segera berkonsentrasi selama tiga tahun hingga saya hafal semua yang saya pelajari. Andaikan dirampok lagi saya tidak akan bingung)

Dari Jurjan, al-Ghazali kembali ke Thus. Di sini, selama tiga tahun ia berkonsentrasi mempelajari ilmu yang dia pelajari di Jurjan sebelumnya sehingga dia hapal semua yang dipelajari-nya. ( Thaha Abd al Baqi Surur, op.cit., hal. 21.; Watt, op.cit, hal. 21) Selanjutnya ia berangkat ke Nisapur, kota di Khurasan yang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan penting di dunia Islam pada saat itu,dan belajar di sana.

Disana, ia berguru pada salah seorang teolog Asy'ariyah, Abu al-Ma'ali al-Juwaini yang dikenal dengan sebutan Imam al-Haramain, guru besar di madrasah al-Nizamiah Nisapur. Mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini antara lain: teologi, fiqh, ushul fiqh, filsafat, logika, sufisme dan ilmu alam. ( Ahmad Syamsuddin dalam al-Ghazali, Majmu'at Rasail al-Imam al-Ghazali : Al Munqidz min al-Dlalal, hal. 5)

Fase ini dipandang sebagai fase yang paling memiliki pengaruh dalam sejarah kehidupan al--Ghazali dan starting point keraguan-keraguan yang menimpa jiwa-nya. ( Ibid.)

Setelah wafatnya Imam Haramain (478 H/1085), al-Ghazali pergi ke Istana Nizamul Muluk di Nisapur. Nizamul Muluk dikenal sebagai orang yang dekat dengan ulama dan para sastrawan. Di sana, Nizamul Muluk kagum pada peguasaan ilmu al-Ghazali dan kemampuannya dalam bertukar pikiran. Kekaguman ini kemudian me-ngantarnya pada posisi sebagai pengajar di Madrasah Nidzamiyah Baghdad setelah penunjukan dirinya oleh Nizamul Muluk untuk me-nempati posisi tersebut pada tahun 484 H./1091. (Umar Farrukh, op.cit, hal. 486; Ahmad Syamsuddin, op.cit, hal. 6) Dari penunju-kannnya ini, al-Ghazali memulai sebuah tahap kehidupan barunya di Baghdad. Ia masuk ke kota Baghdad disaat ia menginjak peng-hujung usia mudanya. Di sana ia mendapat keagungan dan kemasyhuran yang meluas.

Dalam fase kehidupannya di Baghdad ini, al-Ghazali melakukan pengembangan dan perluasan ilmunya melalui aktifitas yang intensif dalam penelitian dan pengkajian. Ia mempelajari filsafat secara mendalam dan mengkaji kitab-kitab para filosof terdahulu seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. Wujud dari studi intensifnya ini adalah tersusunnya kitab "Maqasid Al-Falasifah" dan karya fenomenalnya dalam bidang filsafat "Tahafut Al-Falasifah" yang merupakan kritik tajamnya terhadap beberapa pendapat bebe-rapa filosof. (Ahmad Syamsuddin, Ibid, hal. 6)

Di samping itu, al-Ghazali juga melakukan kajian yang mendalam pada sejumlah pemikiran dalam berbagai bidang yang berkembang pada masanya, yang kemudian melahirkan beberapa kritiknya terhadap empat kelompok aliran pemikiran yang sedang berkembang pada masa itu, yakni teolog, filosof, aliran bathiniyah, dan kaum sufi. (Abu Hamid al-Ghazali, Al-Munqidz min al-Dlalal, Damascus, tp, 1934, hal.13. Kritik-kritik al-Ghazali itu secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kepada teolog, al-Ghazali berkomentar bahwa mereka mengasas-kan dalil-dalilnya pada karya para filosof untuk menopang paham teologinya atau mematahkan pendapat lawannya dari kalangan fi-losof maupun teolog lain. Pada masa itu, teologi telah berpadu dengan filsafat. Akibatnya, sebagian orang mengira bahwa kedua-nya sama, seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya.(Ibn Khaldun, Al- Muqaddimah, Al-Mathba'ah al--Bahiyyah, Kairo, tt., hal.327) Kebanyakan yang mereka dalami hanya untuk menyatakan kontradiksi-kontradiksi pendapat lawan, dan mengkritiknya dengan postulat-postulat mereka sendiri. Pe-ngenalan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, tidak akan ter-capai lewat teologi, Malah hampir menjadi penghalang...banyak-nya perdebatan agama dengan cara para teolog dan penyianyiaan waktu dalam detail-detail ilmu mereka, menghalangi manusia yang ingin meraih kesempurnaan ruhaniah. (Abu Hamid al- Ghazali, Al Munqidz min al-Dlalal, op.cit., hal.9. Lihat pula Ihya Ulum al--Din, Jilid I, Al Babi al-Halabi, Kairo, 1334 H, ahl. 36 dan 68)
2. Terhadap filosof, al-Ghazali melancarkan kritik yang cukup keras. Menurutnya ada tiga kekeliruan mendasar para filosof. Pertama, pendapat mereka tentang qadimnya alam semesta. Kedua, ...lanjutan...pendapat para filosof bahwa Allah hanya mengetahui totalitas, tidak mengetahui detail-detail. Ketiga, pengingkaran para filo-sof terhadap kebangkitan fisik di akhirat kelak. Secara leng-kap, di dalam Tahafut al Falasifah, diungkap kritik al-Ghazali terhadap filosof yang seluruhnya berjumlah duapuluh poin. Dalam makalah ini hanya disebut tiga hal.
3. Aliran Bathiniyah atau Ta'limiyah, yaitu madzhab Syiah Isma'iliyah, juga mendapat kritik dari al-Ghazali. Pada masa al-Ghazali, aliran bathiniyah mendapat banyak pengikut. Mereka berpendapat bahwa mereka mendapat mendapat petunjuk dari Imam yang ma'shum (terjaga dari dosa). Pendapat ini ditentang al-Ghazali dengan menyatakan bahwa yang ma'shum hanyalah Nabi Muhammad. Pendapat mereka tentang ilmu batin sama sekali tidak berdasar. Rasulullah bersabda : "Aku menetapkan hukum atas segala sesuatu yang menggejala, sementara yang dirahasiakan dibalik itu, hanya Allah yang mengetahuinya. (Abu Hamid al--Ghazali, Al-Munqidz min al-Dlalal, op.cit, hal. 24-25) Golongan ini menurut al-Ghazali bukanlah termasuk kelompok yang dapat mencapai kebenaran yang hakiki
)

Saat itu, disiplin ilmu-ilmu agama, bahkan keberagamaan itu sendiri, tampaknya telah menjadi sangat formalistis. Agama ketika itu telah diperlakukan sebagai obyek kajian (obyek material) dari beberapa sudut pandang dan untuk mengejar kepentingan-kepentingan profan ketimbang sebagai ajakan ilahi agar manusia dapat mencapai keluhuran budi dan keluhuran ruhani. Ilmu fiqh, Ilmu kalam, dan filsafat adalah kajian eksoteris yang telah kehilangan dimensi 'dalam'-nya, dan menampakkan diri sebagai seni perdebatan--secara sinis, sebagai semata dialekti-ka pemikiran dan akrobatik verbal--dari kaum intelektual yang mengharapkan popularitas dan kedudukan. (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, op.cit., Jilid I, hal. 3-5) Dalam pandangan al--Ghazali, kehidupan dan perkembangan ilmu, apalagi ilmu agama, tanpa kandungan nuansa ruhaniah adalah percuma.

Setelah rampung mengkritik para teolog, filosof, dan penganut aliran batiniyah, al-Ghazali mulai mengkaji karya--karya sufi secara mendalam. ( Mahmud Hamdi Zaqauq, Al-Manhaj al-Falsafi baina al--Ghazali wa Dikart, diterjemahkan dengan judul Al-Ghazali Sang Sufi Sang Filosof, Pustaka, Bandung, 1981) Akhirnya ia tertimpa krisis psikis yang sangat kronis, karena ia tahu betapa senjangnya antara kehidupan sufi dan jalan yang ditempuhnya saat itu; yang pres-tisius, mencari ketenaran dan kekayaan. (Syed Amir Ali, op.cit., hal. 463) Krisis ini berlangsung selama enam bulan dan membuatnya menjadi sangat lemah.

Agaknya, hal tersebut timbul karena ia hendak bertindak jujur terhadap dirinya sendiri. Ia sadar bahwa motivasinya mengajar ilmu-ilmu, pada awalnya, tidak lain adalah hanyalah untuk memperoleh jabatan dan membuatnya terkenal, yang ia sadari betapa rendahnya motivasi itu. Untuk itu ia berusaha melepaskan diri dari sikap yang demikian.

Akibat krisis ini, al-Ghazali meninggalkan kedudukannya sebagai guru besar di perguruan Al-Nizamiyah pada tahun 488 H/1095 M. Ia berhenti mengajar dan ber-uzlah selama sepuluh tahun. ( Kejadian uzlah-nya itu secara detail diungkap sendiri oleh Al-Ghazali dalam al-Munqidz min al-Dlalal bab Thuruq al-Shufiyah: "Lalu kualihkan tatapanku ke jalan para sufi. Kuketahui ia tak dapat dilintasi ke ujungnya tanpa ajaran dan amalannya. Dan bahwasanya inti ajarannya terletak pada pengendalian nafsu badaniah dan keberhasilan dalam membersihkan watak-watak jahat dan sifat-sifat keji, hingga hati bersih dari segalanya kecuali Allah. Dan makna pembersihan ini adalah makna dzikir Allah, yakni mengingat Allah dan mencurahkan segala pikiran pada-Nya. Bagiku kini ajarannya lebih mudah ketimbang amalan-amalannya, maka mulailah kupelajari ajaran mereka dari berbagai kitab dan tuturan para syeikh mereka, hingga kuperoleh jalan mereka dengan belajar dan menyimak, dan dengan jelas kulihat bahwa hal-hal paling ganjil pada mereka tak dapat dipelajari, melainkan melalui pengalaman, ektase, dan perubahan batiniyah. Yakinlah aku bahwa kini telah kuperoleh semua pengetahuan tasa-wuf yang bisa dicapai melalui belajar. Selebihnya, tiada jalan kepadanya melainkan dengan mengikuti kehidupan para sufi.
Setelah itu, kulihat diriku sebagaimana adanya. Segenap pamrih duniawi melanda diriku. Bahkan pekerjaanku sebagai gurupun, suatu amalan yang terbaik, tampak sia-sia dan tiada manfaat ukhrawi, manakala kuperhatikan tujuannya aku melakukan semua itu bukan demi Allah, tetapi untuk kemegahan dan reputasi. Ku-sadari bahwa diriku berada di tepi jurang dan nyaris jatuh ke dalam api neraka jika tak segera kuperbaiki jalan--jalanku...Sadar akan ketakberdayaan, seraya mengerahkan segenap kemauan, kucari perlindungan kepada Allah, ibarat orang dilanda kesulitan tanpa berdaya lagi. Allah mengabulkan doaku, dan me-mudahkan aku berpaling dari kemasyhuran, kekayaan, isteri, anak-anak, dan sahabat."
)

Sejak pengunduran diri hingga saat wafatnya tahun 505 H/1111 M, al-Ghazali menjalani kehidupan sederhana sebagai seorang sufi, di samping selingan aktifitas belajar dan menyusun sejumlah kitab. ( A.J. Arberry, Ibid, hal. 103) silahkan baca juga IMAM AL GHAZALI


MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC


0 komentar:

Posting Komentar

Bila anda berkenan silhkan tinggalkan pesan...
Trima kasih and matur suwun.... edy putra

Bengkel Mobil EDY PUTRA jepara Jl, Cik lanang62 Rt04/05 Kauman jepara jawa tengah-59417,,Call +6287 746 002 557 - +6285 291 522 655 - +6288 215 015 057