;
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Senin, 22 Oktober 2012

PERLUKAH SEBUAH HADIST


10 ALASAN MENGAPA HADITS PATUT DIPERTANYAKAN
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


ALASAN 1 : QUR’AN MEMPERTANYAKAN HADITS

Ini adalah alasan terpenting. Beberapa ayat dalam Qur’an mempertanyakan baik isi hadits (perkataan-perkataan) yang dibuat oleh manusia maupun orang-orang yang mengikutinya.

“ Maka patutkah aku mencari hakim SELAIN daripada ALLAH, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Qur'an) kepadamu dengan TERPERINCI? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

Telah SEMPURNALAH kalimat Tuhanmu (Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan jika kamu menuruti KEBANYAKAN orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti PERSANGKAAN belaka, dan mereka tidak lain hanyalah BERDUSTA (terhadap Allah).” (6 : 114-116)

“ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Qur'an yang SERUPA (konsisten/tidak saling bertentangan) lagi berulang-ulang .... “ (39 : 23)

“ Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Qur'an) untuk MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (16 : 89)

“ Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan HADITS (perkataan) MANA LAGI mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. “ (45 : 6)


ALASAN 2 : (ADA) HADITS ITU SENDIRI MELARANG HADITS (SEBAGAI HUKUM)

Ada hadist yang melarang penggunaan hadits sebagai hukum Islam. Ini adalah beberapa contoh :

“ Nabi berkata : ‘ JANGAN tuliskan apa pun dariku SELAIN Qur’an.’”

“ Nabi berkata : ‘ JANGAN tuliskan apa pun dariku SELAIN Qur’an. Siapa saja yang telah menuliskan perkataanku SELAIN daripada Qur’an, hendaknya MENGHAPUSNYA.’”

“ Zaid bin Tsabit (penulis wahyu yang terdekat dengan Nabi) mengunjungi Khalifah Mu’awiyah (lebih dari 30 tahun setelah wafatnya Nabi) dan menceritakan kisah kehidupan Nabi. Mu’awiyah menyukai kisah itu dan memerintahkannya untuk menulisnya dalam buku. Akan tetapi Zaid berkata : ‘ Rasulullah MELARANGKU untuk menuliskan perkataan-perkataan (hadits) beliau.”’

“ Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah diberi tahu bahwa beberapa orang menuliskan perkataan-perkataan beliau. Nabi membawa orang-orang itu ke masjid dan berkata : ‘Apa yang telah kalian tulis? AKU HANYALAH MANUSIA BIASA! Siapa saja yang telah menuliskan perkataan-perkataanku hendaklah menyerahkannya di sini.’ Abu Hurairah berkata : ‘Kami mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut dan membakarnya.’”

(Ironis : Abu Hurairah mengisahkan hadits lebih banyak dari siapa pun!)

“ Abu Said Al-Khudry berkata : ‘ Aku meminta izin kepada Rasulullah untuk menuliskan perkataan-perkataan beliau, namun beliau menolak memberikan izin tersebut.’”

Saya pribadi tidak senang dengan kenyataan bahwa saya harus menggunakan hadits untuk membuktikan argumen saya. Qur’an seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan anda betapa berbahayanya mengada-adakan hukum yang diatasnamakan kepada Rasulullah.

Qur’an sangat jelas mengatakan :

“ Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka BERPURA-PURA MENDENGAR, akan tetapi kebanyakan mereka adalah PENDUSTA.” (26 : 221-223)


ALASAN 3 : TERDAPAT BANYAK KONTRADIKSI PADA HADITS

Qur’an mengatakan :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah BANYAK TERDAPAT PERTENTANGAN (kontradiksi) di dalamnya.” (4 : 82)

Kontradiksi adalah hal yang sering saya temukan di dalam hadits, yaitu :

1) Bertentangan dengan Qur’an.
2) Bertentangan dengan antar sesama hadits.
3) Bertentangan dengan logika dan kewajaran.


ALASAN 4 : TELAH TERJADI DISTORSI PADA MAKNA KATA “SHAHIH”.

Hadits yang dianggap benar biasa disebut “shahih.” Keaslian atau keotentikan dari perkataan Nabi lebih didasarkan pada “kredibilitas” rantai periwayat hadits (perawi) daripada isi dari hadits itu sendiri.

Para periwayat hadits seringkali disebut dengan “sahabat Nabi”. Ini adalah kata yang telah diselewengkan!

Umat Islam menyebut kata “sahabat” sebagai orang-orang yang dekat dengan Nabi. Sebagian besar dari mereka menolak kenyataan bahwa kata “sahabat” tidak selalu berarti orang yang dekat dan loyal kepada Nabi.

Berdasarkan definisi yang dirumuskan oleh Bukhari, kata “sahabat” adalah : “siapa saja yang pernah bertemu dan melihat Nabi. “ (Fakta ini seharusnya menyadarkan anda!)

Qur’an menceritakan bahwa para nabi dan rasul sebelumnya juga telah dikhianati oleh para pengikutnya. Apakah anda yakin bahwa para pengikut Nabi Muhammad pasti lebih baik daripada para pengikut Nabi Isa?

Faktanya adalah : kita tidak yakin!

Qur’an telah menunjukkan sebaliknya :

“ Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: ‘Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.’Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)". Orang-orang kafir itu MEMBUAT TIPU DAYA, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. ( 3 : 52-54)

“ (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu KETETAPAN terhadap RASUL-RASUL Kami yang Kami utus sebelum kamu dan TIDAK AKAN ADA kamu dapati PERUBAHAN bagi ketetapan Kami itu. “ (17 : 77)

“ Mereka akan bersumpah kepadamu (wahai Muhammad), agar kamu rida kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu rida kepada mereka, maka sesungguhnya Allah TIDAK RIDA kepada orang-orang yang FASIK itu.” (9 : 96)

“ Orang-orang ARAB Badui itu, adalah yang terburuk KEKAFIRAN dan KEMUNAFIKANNYA, dan BODOH dalam memahami hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (9 : 97)

“ Di antara orang-orang ARAB Badui yang di SEKELILINGMU(wahai Muhammad) itu, ada orang-orang MUNAFIK; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) TIDAK MENGETAHUI MEREKA, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. “ (9 : 101)

“ Maka KECELAKAAN yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Kitab dengan TANGAN MEREKA SENDIRI, lalu dikatakannya: "INI DARI ALLAH", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (2 : 79)


ALASAN 5 : KEABSAHAN HADITS DIRAGUKAN

Qur’an menyatakan bahwa sebuah dokumen bisa dianggap sah jika ada minimal dua orang saksi. Namun sebagian besar hadits hanya didasarkan pada kesaksian satu orang saja. Bahkan pada peristiwa penting yaitu menjelang wafatnya Nabi yang disaksikan oleh ratusan pengikutnya, ternyata ada tiga versi hadits yang tersedia :

1. “ Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu KITABULLAH dan SUNNAHKU.”

2. “ Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu KITABULLAH dan KELUARGAKU.”

3. “ Aku tinggalkan perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengannya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu KITABULLAH.”

Jadi, versi manakah yang benar?

Carilah jawaban untuk pertanyaan ini kepada cahaya Qur’an. Insya Allah anda akan mendapat jawabannya dengan jelas!

Sangat menyedihkan melihat kenyataan bahwa setelah Nabi Muhammad wafat, pengikutnya saling berdebat, bertengkar, dan terpecah belah demi perebutan kekuasaan!

“ Dan mereka TERPECAH BELAH melainkan SESUDAH datangnya pengetahuan (Qur’an) kepada mereka karena KEDENGKIAN antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam KERAGUAN yang menggoncangkan tentang kitab itu. “ (42 : 14)

“ Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang MEMECAH BELAH agama mereka dan mereka menjadi BEBERAPA GOLONGAN. Tiap-tiap golongan merasa BANGGA dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (30 : 31-32)


ALASAN 6 : ISLAM TELAH “SEMPURNA” HANYA DENGAN QUR’AN JAUH SEBELUM HADITS DIBUKUKAN

Banyak orang yang tidak paham bahwa satu-satunya misi Ilahiah kepada Nabi Muhammad adalah menyampaikan kitab suci Qur’an. Beliau tidak pernah diperintahkan oleh Allah untuk mengajarkan kepada kita bagaimana beliau makan, tidur, buang air, dsb.

Kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah sebagai penyampai wahyu Allah yaitu Qur’an, bukan mengikuti beliau sebagai manusia! Mematuhi Nabi adalah perintah Allah untuk mengikuti cahaya Qur’an yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Mematuhi Nabi bukanlah berarti mengikuti perkataan-perkataan yang telah diatasnamakan kepada Nabi, yang disebut “Sunnah”, di mana hal ini memang TIDAK PERNAH SEKALI PUN disebut dalam Qur’an!

Satu-satunya sunnah yang diperintahkan kepada kita untuk diikuti adalah Sunatullah yaitu ketetapan Allah!

Bagaimana mungkin kisah-kisah tentang kehidupan Nabi yang bersifat privat bisa kita KETAHUI saat ini (entah itu fakta atau kebohongan), jika bukan orang-orang pada zaman itu MENGABAIKAN firman Allah dalam Qur’an surah 33 : 53?

“ Hai orang-orang yang beriman, JANGANLAH kamu MEMASUKI rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu DIIZINKAN untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu TANPA asyik MEMPERPANJANG PERCAKAPAN. Sesungguhnya yang demikian itu akan MENGGANGGU Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar ...” (33 : 53)


ALASAN 7 : SEGALA PUJI HANYA KEPADA ALLAH SEMATA

Hanya Allah yang sempurna!

Sayangnya, banyak umat Islam yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang sempurna, tanpa cacat sedikit pun.

Dalam hal menyampaikan wahyu Allah, pendapat mereka itu 100% benar. Nabi Muhammad telah menyelesaikan tugas ini dengan menyampaikan Qur’an, dan tidak ada lain HANYA Qur’an!

Namun demikian, Nabi Muhammad seperti halnya nabi-nabi yang lainnya, hanyalah manusia biasa. Segala perkataan dan tindakan atas kemauan mereka sendiri sebagai manusia, tidaklah luput dari kesalahan.

Allah tidak akan terpengaruh dengan segala tindak tanduk para nabi, akan tetapi Dia adalah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memaafkan segala kesalahan manusia, termasuk para nabi. Peristiwa ini juga bisa kita baca dalam Qur’an, contohnya :

“ Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (66 : 1)

Beberapa penjelasan dari Hadits tentang ayat ini telah diselewengkan maknanya, dengan dibuat seolah-olah Nabi Muhammad adalah manusia sempurna yang berhak dipuja-puja sebagaimana Allah.

Tapi ingat! Bukan berarti jika anda tidak menyimpan patung Nabi Muhammad maka anda akan terbebas dari dosa pemberhalaan!


ALASAN 8 : QUR’AN BISA MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI

Qur’an tidak bergantung kepada penjelasan hadits! Tidak sulit bagi Allah jika Dia berkehendak menurunkan kitab-kitab yang ditulis dengan tinta yang menghabiskan seluruh air laut. Jika anda berpendapat ada yang kurang dalam Qur’an, itu sama sekali bukan karena Allah lupa. Justru karena kemaha pemurahan-Nya, ada beberapa hal yang tidak dituliskan di dalam Qur’an. Justru Allah telah membukakan pintu ijtihad, penafsiran, dan pengembangan sebagai berkah Allah akan anugerah terbaik bagi manusia yaitu akal.

Qur’an membawa pesan universal yang bisa melintasi ruang dan waktu. Kita harus senantiasa mencari jalan keluar untuk permasalahan yang ada di sekitar kita hari ini.
Dan jawabannya tidak harus dipaksakan oleh “Hukum Islam” yang diwariskan oleh masyarakat Arab di abad pertengahan. Sudah seharusnya ulama di zaman ini melakukan evaluasi terhadap hukum-hukum masa lampau dan menggantikannya dengan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan kekinian, untuk menghadapi dilema yang kita hadapi saat ini.

Qur’an tidak hanya berbicara dengan masyarakat Arab di abad pertengahan, tetapi MASIH berbicara dengan umat manusia di zaman ini di belahan bumi mana pun.

Qur’an sendiri berbicara bahwa Ia (Qur’an) mudah untuk dipahami bagi orang-orang yang benar-benar beriman, dan sulit dipahami bagi orang-orang munafik dan penyembah berhala. Mereka (orang munafik dan penyembah berhala) selalu khawatir bahwa ayat-ayat itu akan membuka kebobrokan mereka.

Apakah anda menyadari bahwa betapa nyamannya bagi mereka (orang munafik) untuk mencomot-comot dalil dari Hadits untuk memutarbalikkan makna dalam ayat-ayat Qur’an?

Mari kita baca ayat berikut ini!

“ Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan HADITS-HADITS (perkataan) YANG TIDAK BERGUNA untuk MENYESATKAN (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (31 : 6)

Mereka tidak akan membiarkan ayat ini membuka kebobrokan mereka, maka mereka tidak berani menterjemahkan kata “Hadits” ini apa adanya. Biasanya mereka menterjemahkan menjadi “perkataan”, bahkan ada yang keterlaluan dengan menterjemahkannya menjadi “nyanyian dan musik!”

Selalu lebih mudah bagi orang-orang yang selalu merasa paling benar sendiri itu untuk mengacungkan jari telunjuk ke arah orang lain yang tidak sepaham, daripada introspeksi diri dan memperbaiki kesalahan mereka sendiri!

“ Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-PERKATAAN YANG INDAH-INDAH UNTUK MENIPU (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (6 : 112-113)

“ Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan MEREKA MENGIRA BAHWA MEREKA MENDAPATKAN PETUNJUK.” (7 : 30)

“ Dan di antara mereka ada orang yang MENDENGAR PERKATAANMU (wahai Muhammad) sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "APAKAH YANG DIKATAKANNYA (Muhammad) TADI?" Mereka itulah orang-orang yang DIKUNCI MATI HATI mereka oleh Allah dan MENGIKUTI HAWA NAFSU mereka.” (47 : 16)


ALASAN 9 : MEMPERTANYAKAN HADITS TIDAK MENJADIKAN ANDA KAFIR!

Justru anda sedang menjalankan tepat apa yang diperintahkan Allah di dalam Qur’an! Allah berfirman kepada kita bahwa kita bertanggung jawab atas pendengaran, penglihatan, dan pola berpikir yang logis yang dikaruniakan kepada kita, dan untuk membuktikan sebuah kebenaran.

“ Yang MENDENGARKAN PERKATAAN lalu MENGIKUTI APA YANG PALING BAIK di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah PETUNJUK dan mereka itulah orang-orang yang MEMPUNYAI AKAL. “ (39 : 18)

Qur’an mengatakan bahwa Nabi Muhammad kelak pada Hari Penghakiman akan berkeluh kesah kepada Allah dengan berkata, “Umatku telah menjadikan Qur’an sesuatu yang tidak diacuhkan.”

Apakah anda pernah bertanya kepada diri sendiri, siapakah yang dimaksud dengan “umatku” oleh Rasulullah? Ataukah lebih mudah menunjuk ke arah umat Yahudi dan Nasrani?

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya PENDENGARAN, PENGLIHATAN, dan HATI, semuanya itu akan diminta PERTANGGUNGAN JAWABNYA.” (17 : 36)

“ Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang TIDAK MENDENGAR SELAIN PANGGILAN DAN SERUAN saja. Mereka TULI, BISU, DAN BUTA, maka (oleh sebab itu) mereka TIDAK MENGERTI.” (2 : 171)

Sebagian besar Hukum Syariat dalam “Islam” yang diambil di luar Qur’an adalah berdasarkan Fikih dan Hadits. Mari kita bertanya kepada diri sendiri : berserah diri (Islam) macam apa kita ini jika berani mengingkari firman-firman Allah demi sekedar mengikuti tradisi dan Hadits?

Siapakah sebenarnya “orang-orang zalim dan fasik” itu?

Qur’an berkata :

“ Barang siapa TIDAK MEMUTUSKAN perkara menurut APA YANG DITURUNKAN ALLAH, maka mereka itu adalah orang-orang ZALIM.” (5 : 45)

“ Barang siapa TIDAK MEMUTUSKAN perkara menurut APA YANG DITURUNKAN ALLAH, maka mereka itu adalah orang-orang FASIK.” (5 : 47)

Kediktatoran, kejahatan terhadap kemanusiaan, penindasan terhadap wanita, korupsi, pelanggaran terhadap hak berbicara / beragama / berpandangan politik bisa kita saksikan di belahan bumi manapun. Akan tetapi mengapa kasus terbanyak terjadi di negeri-negeri mayoritas “muslim?”

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang MENGAKU dirinya telah BERIMAN kepada APA YANG DITURUNKAN (Qur’an) kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak BERHAKIM kepada kemungkaran, padahal mereka telah diperintah mengingkari kemungkaran itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) PENYESATAN yang sejauh-jauhnya. “ (4 : 60)

“ Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu MENGAMBIL KEPUTUSAN? Atau adakah kamu mempunyai sebuah KITAB LAIN yang kamu ikuti? ”(68 : 36-37)

“... Dia TIDAK mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan HUKUM". (18 : 26)


10 : QUR’AN ADALAH PEMBEDA ANTARA YANG “BENAR” DAN YANG “SALAH”.

“ Maha Suci Allah yang telah menurunkan KITAB PEMBEDA (antara yang benar dan salah) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” (25 : 1)

“Maka siapakah yang LEBIH LALIM daripada orang yang MENGADA-ADAKAN KEDUSTAAN terhadap Allah atau MENDUSTAKAN ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah APA yang TIDAK diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (10 : 17-18)

“ Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah MENAATI PEMIMPIN dan PEMBESAR kami, lalu mereka MENYESATKAN kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (33 : 67-68)

“Sesungguhnya Allah TIDAK AKAN mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang SELAIN dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang MEMPERSEKUTUKAN Allah, maka sungguh ia telah berbuat DOSA yang BESAR. “ (4 : 48)

Kembalilah kepada petunjuk Allah di dalam Qur’an, sebelum terlambat! Karena anda tidak dapat menyalahkan orang-orang yang telah menyesatkan kita pada Hari Penghakiman nanti!

Keselamatan anda tergantung pada anda sendiri, dan ampunan dari Allah!

Allah telah memudahkan agama ini bagi kita. Jika anda merasakan begitu banyak kesulitan dan kerepotan dalam berserah diri (Islam), maka patut anda pertanyakan kepada diri sendiri, Islam apakah yang sedang kita jalani?

Berserah diri hanya kepada Sunnah Allah (Sunatullah) adalah sesuatu hal yang akan dilakukan oleh orang yang benar siapa pun dia, dengan penuh kenikmatan.

Sistem Allah sangat luar biasa, hebat, humanis, dan sehat. Tidak demikian dengan sistem yang dibuat-buat sendiri oleh manusia.

Sangatlah penting bagi siapa saja, Muslim maupun Non-Muslim untuk menyadari perbedaan di antara sistem buatan Allah dan sistem buatan manusia.

Pengingkaran terhadap fakta ini akan berakibat :

“ Mereka MELARANG (orang lain) MENDENGARKAN Al Qur'an dan mereka sendiri MENJAUHKAN diri daripadanya, dan mereka hanyalah MEMBINASAKAN diri mereka sendiri, sedang mereka TIDAK MENYADARI. “ (6 : 26)



MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC

0 komentar:

Poskan Komentar

Bila anda berkenan silhkan tinggalkan pesan...
Trima kasih and matur suwun.... edy putra

Bengkel Mobil EDY PUTRA jepara Jl, Cik lanang62 Rt04/05 Kauman jepara jawa tengah-59417,,Call +6287 746 002 557 - +6285 291 522 655 - +6288 215 015 057