;
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Senin, 22 Oktober 2012

PERLUKAH SEBUAH HADIST


10 ALASAN MENGAPA HADITS PATUT DIPERTANYAKAN
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


ALASAN 1 : QUR’AN MEMPERTANYAKAN HADITS

Ini adalah alasan terpenting. Beberapa ayat dalam Qur’an mempertanyakan baik isi hadits (perkataan-perkataan) yang dibuat oleh manusia maupun orang-orang yang mengikutinya.

“ Maka patutkah aku mencari hakim SELAIN daripada ALLAH, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Qur'an) kepadamu dengan TERPERINCI? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

Telah SEMPURNALAH kalimat Tuhanmu (Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dan jika kamu menuruti KEBANYAKAN orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti PERSANGKAAN belaka, dan mereka tidak lain hanyalah BERDUSTA (terhadap Allah).” (6 : 114-116)

“ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Qur'an yang SERUPA (konsisten/tidak saling bertentangan) lagi berulang-ulang .... “ (39 : 23)

“ Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Qur'an) untuk MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (16 : 89)

“ Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan HADITS (perkataan) MANA LAGI mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. “ (45 : 6)


ALASAN 2 : (ADA) HADITS ITU SENDIRI MELARANG HADITS (SEBAGAI HUKUM)

Ada hadist yang melarang penggunaan hadits sebagai hukum Islam. Ini adalah beberapa contoh :

“ Nabi berkata : ‘ JANGAN tuliskan apa pun dariku SELAIN Qur’an.’”

“ Nabi berkata : ‘ JANGAN tuliskan apa pun dariku SELAIN Qur’an. Siapa saja yang telah menuliskan perkataanku SELAIN daripada Qur’an, hendaknya MENGHAPUSNYA.’”

“ Zaid bin Tsabit (penulis wahyu yang terdekat dengan Nabi) mengunjungi Khalifah Mu’awiyah (lebih dari 30 tahun setelah wafatnya Nabi) dan menceritakan kisah kehidupan Nabi. Mu’awiyah menyukai kisah itu dan memerintahkannya untuk menulisnya dalam buku. Akan tetapi Zaid berkata : ‘ Rasulullah MELARANGKU untuk menuliskan perkataan-perkataan (hadits) beliau.”’

“ Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah diberi tahu bahwa beberapa orang menuliskan perkataan-perkataan beliau. Nabi membawa orang-orang itu ke masjid dan berkata : ‘Apa yang telah kalian tulis? AKU HANYALAH MANUSIA BIASA! Siapa saja yang telah menuliskan perkataan-perkataanku hendaklah menyerahkannya di sini.’ Abu Hurairah berkata : ‘Kami mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut dan membakarnya.’”

(Ironis : Abu Hurairah mengisahkan hadits lebih banyak dari siapa pun!)

“ Abu Said Al-Khudry berkata : ‘ Aku meminta izin kepada Rasulullah untuk menuliskan perkataan-perkataan beliau, namun beliau menolak memberikan izin tersebut.’”

Saya pribadi tidak senang dengan kenyataan bahwa saya harus menggunakan hadits untuk membuktikan argumen saya. Qur’an seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan anda betapa berbahayanya mengada-adakan hukum yang diatasnamakan kepada Rasulullah.

Qur’an sangat jelas mengatakan :

“ Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka BERPURA-PURA MENDENGAR, akan tetapi kebanyakan mereka adalah PENDUSTA.” (26 : 221-223)


ALASAN 3 : TERDAPAT BANYAK KONTRADIKSI PADA HADITS

Qur’an mengatakan :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah BANYAK TERDAPAT PERTENTANGAN (kontradiksi) di dalamnya.” (4 : 82)

Kontradiksi adalah hal yang sering saya temukan di dalam hadits, yaitu :

1) Bertentangan dengan Qur’an.
2) Bertentangan dengan antar sesama hadits.
3) Bertentangan dengan logika dan kewajaran.


ALASAN 4 : TELAH TERJADI DISTORSI PADA MAKNA KATA “SHAHIH”.

Hadits yang dianggap benar biasa disebut “shahih.” Keaslian atau keotentikan dari perkataan Nabi lebih didasarkan pada “kredibilitas” rantai periwayat hadits (perawi) daripada isi dari hadits itu sendiri.

Para periwayat hadits seringkali disebut dengan “sahabat Nabi”. Ini adalah kata yang telah diselewengkan!

Umat Islam menyebut kata “sahabat” sebagai orang-orang yang dekat dengan Nabi. Sebagian besar dari mereka menolak kenyataan bahwa kata “sahabat” tidak selalu berarti orang yang dekat dan loyal kepada Nabi.

Berdasarkan definisi yang dirumuskan oleh Bukhari, kata “sahabat” adalah : “siapa saja yang pernah bertemu dan melihat Nabi. “ (Fakta ini seharusnya menyadarkan anda!)

Qur’an menceritakan bahwa para nabi dan rasul sebelumnya juga telah dikhianati oleh para pengikutnya. Apakah anda yakin bahwa para pengikut Nabi Muhammad pasti lebih baik daripada para pengikut Nabi Isa?

Faktanya adalah : kita tidak yakin!

Qur’an telah menunjukkan sebaliknya :

“ Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: ‘Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.’Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)". Orang-orang kafir itu MEMBUAT TIPU DAYA, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. ( 3 : 52-54)

“ (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu KETETAPAN terhadap RASUL-RASUL Kami yang Kami utus sebelum kamu dan TIDAK AKAN ADA kamu dapati PERUBAHAN bagi ketetapan Kami itu. “ (17 : 77)

“ Mereka akan bersumpah kepadamu (wahai Muhammad), agar kamu rida kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu rida kepada mereka, maka sesungguhnya Allah TIDAK RIDA kepada orang-orang yang FASIK itu.” (9 : 96)

“ Orang-orang ARAB Badui itu, adalah yang terburuk KEKAFIRAN dan KEMUNAFIKANNYA, dan BODOH dalam memahami hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (9 : 97)

“ Di antara orang-orang ARAB Badui yang di SEKELILINGMU(wahai Muhammad) itu, ada orang-orang MUNAFIK; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) TIDAK MENGETAHUI MEREKA, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. “ (9 : 101)

“ Maka KECELAKAAN yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Kitab dengan TANGAN MEREKA SENDIRI, lalu dikatakannya: "INI DARI ALLAH", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (2 : 79)


ALASAN 5 : KEABSAHAN HADITS DIRAGUKAN

Qur’an menyatakan bahwa sebuah dokumen bisa dianggap sah jika ada minimal dua orang saksi. Namun sebagian besar hadits hanya didasarkan pada kesaksian satu orang saja. Bahkan pada peristiwa penting yaitu menjelang wafatnya Nabi yang disaksikan oleh ratusan pengikutnya, ternyata ada tiga versi hadits yang tersedia :

1. “ Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu KITABULLAH dan SUNNAHKU.”

2. “ Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu KITABULLAH dan KELUARGAKU.”

3. “ Aku tinggalkan perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengannya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu KITABULLAH.”

Jadi, versi manakah yang benar?

Carilah jawaban untuk pertanyaan ini kepada cahaya Qur’an. Insya Allah anda akan mendapat jawabannya dengan jelas!

Sangat menyedihkan melihat kenyataan bahwa setelah Nabi Muhammad wafat, pengikutnya saling berdebat, bertengkar, dan terpecah belah demi perebutan kekuasaan!

“ Dan mereka TERPECAH BELAH melainkan SESUDAH datangnya pengetahuan (Qur’an) kepada mereka karena KEDENGKIAN antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam KERAGUAN yang menggoncangkan tentang kitab itu. “ (42 : 14)

“ Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang MEMECAH BELAH agama mereka dan mereka menjadi BEBERAPA GOLONGAN. Tiap-tiap golongan merasa BANGGA dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (30 : 31-32)


ALASAN 6 : ISLAM TELAH “SEMPURNA” HANYA DENGAN QUR’AN JAUH SEBELUM HADITS DIBUKUKAN

Banyak orang yang tidak paham bahwa satu-satunya misi Ilahiah kepada Nabi Muhammad adalah menyampaikan kitab suci Qur’an. Beliau tidak pernah diperintahkan oleh Allah untuk mengajarkan kepada kita bagaimana beliau makan, tidur, buang air, dsb.

Kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah sebagai penyampai wahyu Allah yaitu Qur’an, bukan mengikuti beliau sebagai manusia! Mematuhi Nabi adalah perintah Allah untuk mengikuti cahaya Qur’an yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Mematuhi Nabi bukanlah berarti mengikuti perkataan-perkataan yang telah diatasnamakan kepada Nabi, yang disebut “Sunnah”, di mana hal ini memang TIDAK PERNAH SEKALI PUN disebut dalam Qur’an!

Satu-satunya sunnah yang diperintahkan kepada kita untuk diikuti adalah Sunatullah yaitu ketetapan Allah!

Bagaimana mungkin kisah-kisah tentang kehidupan Nabi yang bersifat privat bisa kita KETAHUI saat ini (entah itu fakta atau kebohongan), jika bukan orang-orang pada zaman itu MENGABAIKAN firman Allah dalam Qur’an surah 33 : 53?

“ Hai orang-orang yang beriman, JANGANLAH kamu MEMASUKI rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu DIIZINKAN untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu TANPA asyik MEMPERPANJANG PERCAKAPAN. Sesungguhnya yang demikian itu akan MENGGANGGU Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar ...” (33 : 53)


ALASAN 7 : SEGALA PUJI HANYA KEPADA ALLAH SEMATA

Hanya Allah yang sempurna!

Sayangnya, banyak umat Islam yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang sempurna, tanpa cacat sedikit pun.

Dalam hal menyampaikan wahyu Allah, pendapat mereka itu 100% benar. Nabi Muhammad telah menyelesaikan tugas ini dengan menyampaikan Qur’an, dan tidak ada lain HANYA Qur’an!

Namun demikian, Nabi Muhammad seperti halnya nabi-nabi yang lainnya, hanyalah manusia biasa. Segala perkataan dan tindakan atas kemauan mereka sendiri sebagai manusia, tidaklah luput dari kesalahan.

Allah tidak akan terpengaruh dengan segala tindak tanduk para nabi, akan tetapi Dia adalah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memaafkan segala kesalahan manusia, termasuk para nabi. Peristiwa ini juga bisa kita baca dalam Qur’an, contohnya :

“ Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (66 : 1)

Beberapa penjelasan dari Hadits tentang ayat ini telah diselewengkan maknanya, dengan dibuat seolah-olah Nabi Muhammad adalah manusia sempurna yang berhak dipuja-puja sebagaimana Allah.

Tapi ingat! Bukan berarti jika anda tidak menyimpan patung Nabi Muhammad maka anda akan terbebas dari dosa pemberhalaan!


ALASAN 8 : QUR’AN BISA MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI

Qur’an tidak bergantung kepada penjelasan hadits! Tidak sulit bagi Allah jika Dia berkehendak menurunkan kitab-kitab yang ditulis dengan tinta yang menghabiskan seluruh air laut. Jika anda berpendapat ada yang kurang dalam Qur’an, itu sama sekali bukan karena Allah lupa. Justru karena kemaha pemurahan-Nya, ada beberapa hal yang tidak dituliskan di dalam Qur’an. Justru Allah telah membukakan pintu ijtihad, penafsiran, dan pengembangan sebagai berkah Allah akan anugerah terbaik bagi manusia yaitu akal.

Qur’an membawa pesan universal yang bisa melintasi ruang dan waktu. Kita harus senantiasa mencari jalan keluar untuk permasalahan yang ada di sekitar kita hari ini.
Dan jawabannya tidak harus dipaksakan oleh “Hukum Islam” yang diwariskan oleh masyarakat Arab di abad pertengahan. Sudah seharusnya ulama di zaman ini melakukan evaluasi terhadap hukum-hukum masa lampau dan menggantikannya dengan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan kekinian, untuk menghadapi dilema yang kita hadapi saat ini.

Qur’an tidak hanya berbicara dengan masyarakat Arab di abad pertengahan, tetapi MASIH berbicara dengan umat manusia di zaman ini di belahan bumi mana pun.

Qur’an sendiri berbicara bahwa Ia (Qur’an) mudah untuk dipahami bagi orang-orang yang benar-benar beriman, dan sulit dipahami bagi orang-orang munafik dan penyembah berhala. Mereka (orang munafik dan penyembah berhala) selalu khawatir bahwa ayat-ayat itu akan membuka kebobrokan mereka.

Apakah anda menyadari bahwa betapa nyamannya bagi mereka (orang munafik) untuk mencomot-comot dalil dari Hadits untuk memutarbalikkan makna dalam ayat-ayat Qur’an?

Mari kita baca ayat berikut ini!

“ Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan HADITS-HADITS (perkataan) YANG TIDAK BERGUNA untuk MENYESATKAN (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (31 : 6)

Mereka tidak akan membiarkan ayat ini membuka kebobrokan mereka, maka mereka tidak berani menterjemahkan kata “Hadits” ini apa adanya. Biasanya mereka menterjemahkan menjadi “perkataan”, bahkan ada yang keterlaluan dengan menterjemahkannya menjadi “nyanyian dan musik!”

Selalu lebih mudah bagi orang-orang yang selalu merasa paling benar sendiri itu untuk mengacungkan jari telunjuk ke arah orang lain yang tidak sepaham, daripada introspeksi diri dan memperbaiki kesalahan mereka sendiri!

“ Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-PERKATAAN YANG INDAH-INDAH UNTUK MENIPU (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (6 : 112-113)

“ Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan MEREKA MENGIRA BAHWA MEREKA MENDAPATKAN PETUNJUK.” (7 : 30)

“ Dan di antara mereka ada orang yang MENDENGAR PERKATAANMU (wahai Muhammad) sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "APAKAH YANG DIKATAKANNYA (Muhammad) TADI?" Mereka itulah orang-orang yang DIKUNCI MATI HATI mereka oleh Allah dan MENGIKUTI HAWA NAFSU mereka.” (47 : 16)


ALASAN 9 : MEMPERTANYAKAN HADITS TIDAK MENJADIKAN ANDA KAFIR!

Justru anda sedang menjalankan tepat apa yang diperintahkan Allah di dalam Qur’an! Allah berfirman kepada kita bahwa kita bertanggung jawab atas pendengaran, penglihatan, dan pola berpikir yang logis yang dikaruniakan kepada kita, dan untuk membuktikan sebuah kebenaran.

“ Yang MENDENGARKAN PERKATAAN lalu MENGIKUTI APA YANG PALING BAIK di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah PETUNJUK dan mereka itulah orang-orang yang MEMPUNYAI AKAL. “ (39 : 18)

Qur’an mengatakan bahwa Nabi Muhammad kelak pada Hari Penghakiman akan berkeluh kesah kepada Allah dengan berkata, “Umatku telah menjadikan Qur’an sesuatu yang tidak diacuhkan.”

Apakah anda pernah bertanya kepada diri sendiri, siapakah yang dimaksud dengan “umatku” oleh Rasulullah? Ataukah lebih mudah menunjuk ke arah umat Yahudi dan Nasrani?

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya PENDENGARAN, PENGLIHATAN, dan HATI, semuanya itu akan diminta PERTANGGUNGAN JAWABNYA.” (17 : 36)

“ Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang TIDAK MENDENGAR SELAIN PANGGILAN DAN SERUAN saja. Mereka TULI, BISU, DAN BUTA, maka (oleh sebab itu) mereka TIDAK MENGERTI.” (2 : 171)

Sebagian besar Hukum Syariat dalam “Islam” yang diambil di luar Qur’an adalah berdasarkan Fikih dan Hadits. Mari kita bertanya kepada diri sendiri : berserah diri (Islam) macam apa kita ini jika berani mengingkari firman-firman Allah demi sekedar mengikuti tradisi dan Hadits?

Siapakah sebenarnya “orang-orang zalim dan fasik” itu?

Qur’an berkata :

“ Barang siapa TIDAK MEMUTUSKAN perkara menurut APA YANG DITURUNKAN ALLAH, maka mereka itu adalah orang-orang ZALIM.” (5 : 45)

“ Barang siapa TIDAK MEMUTUSKAN perkara menurut APA YANG DITURUNKAN ALLAH, maka mereka itu adalah orang-orang FASIK.” (5 : 47)

Kediktatoran, kejahatan terhadap kemanusiaan, penindasan terhadap wanita, korupsi, pelanggaran terhadap hak berbicara / beragama / berpandangan politik bisa kita saksikan di belahan bumi manapun. Akan tetapi mengapa kasus terbanyak terjadi di negeri-negeri mayoritas “muslim?”

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang MENGAKU dirinya telah BERIMAN kepada APA YANG DITURUNKAN (Qur’an) kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak BERHAKIM kepada kemungkaran, padahal mereka telah diperintah mengingkari kemungkaran itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) PENYESATAN yang sejauh-jauhnya. “ (4 : 60)

“ Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu MENGAMBIL KEPUTUSAN? Atau adakah kamu mempunyai sebuah KITAB LAIN yang kamu ikuti? ”(68 : 36-37)

“... Dia TIDAK mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan HUKUM". (18 : 26)


10 : QUR’AN ADALAH PEMBEDA ANTARA YANG “BENAR” DAN YANG “SALAH”.

“ Maha Suci Allah yang telah menurunkan KITAB PEMBEDA (antara yang benar dan salah) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” (25 : 1)

“Maka siapakah yang LEBIH LALIM daripada orang yang MENGADA-ADAKAN KEDUSTAAN terhadap Allah atau MENDUSTAKAN ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah APA yang TIDAK diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (10 : 17-18)

“ Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah MENAATI PEMIMPIN dan PEMBESAR kami, lalu mereka MENYESATKAN kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (33 : 67-68)

“Sesungguhnya Allah TIDAK AKAN mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang SELAIN dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang MEMPERSEKUTUKAN Allah, maka sungguh ia telah berbuat DOSA yang BESAR. “ (4 : 48)

Kembalilah kepada petunjuk Allah di dalam Qur’an, sebelum terlambat! Karena anda tidak dapat menyalahkan orang-orang yang telah menyesatkan kita pada Hari Penghakiman nanti!

Keselamatan anda tergantung pada anda sendiri, dan ampunan dari Allah!

Allah telah memudahkan agama ini bagi kita. Jika anda merasakan begitu banyak kesulitan dan kerepotan dalam berserah diri (Islam), maka patut anda pertanyakan kepada diri sendiri, Islam apakah yang sedang kita jalani?

Berserah diri hanya kepada Sunnah Allah (Sunatullah) adalah sesuatu hal yang akan dilakukan oleh orang yang benar siapa pun dia, dengan penuh kenikmatan.

Sistem Allah sangat luar biasa, hebat, humanis, dan sehat. Tidak demikian dengan sistem yang dibuat-buat sendiri oleh manusia.

Sangatlah penting bagi siapa saja, Muslim maupun Non-Muslim untuk menyadari perbedaan di antara sistem buatan Allah dan sistem buatan manusia.

Pengingkaran terhadap fakta ini akan berakibat :

“ Mereka MELARANG (orang lain) MENDENGARKAN Al Qur'an dan mereka sendiri MENJAUHKAN diri daripadanya, dan mereka hanyalah MEMBINASAKAN diri mereka sendiri, sedang mereka TIDAK MENYADARI. “ (6 : 26)



MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC
READ MORE - PERLUKAH SEBUAH HADIST

NAJIS DAN HARAM

PERBEDAAN NAJIS DAN HARAM

Didalam masyarakat umum kata najis dan haram seringkali kita dengar, apalgi yang berhubungan dengan hal makanan yang setiap waktu kita butuhkan.
Pada kesempatan ini kita akan mengupas perbedaannya, setiap benda yang najis, haram dimakan. Tetapi tidak semua benda yang haram dimakan itu najis. Dalam bahasa ushul fiqih dikenal istilah illat, illat adalah alasan yang digunakan sebagai dasar pengambilan sebuah hukum. Berhubungan dengan hukum haram, ada tiga alasan –illat-, pertama haram karena memudharatkan. Kedua, haram karena dihormati, dan ketiga haram karena najis.
Agar lebih jelas dicontohkan seperti berikut.

Haram dengan illat mudharat, misalnya mengkonsumsi/memakan paku halus. Meskipun paku itu tidak najis, tetapi haram dimakan. Karena memakan paku halus dapat menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit berbahaya.

Haram dengan illat dihormati, misalnya memakan daging manusia ataupun minum air mani, meskipun keduanya suci. keharaman ini lebih pada penghormatan dua hal tersebut.

Haram dengan illat najis, misalnya makan daging babi. Keharaman daging bagi pada dasarnya dikarenakan kondisi babi itu sendiri yang merupakan perkara najis seperti yang diterangkan dalam al-Qur’an. Adapaun setelah ada penelitian ternyata daging babi mengandung mudharat/penyakit, itu merupakan hikmah dibalik pengharaman, bukan illat itu sendiri.

Dengan demikian sebenarnya haram dan najis adalah dua hal yang berbeda. Haram berhubungan dengan hukum syar’i, sedangkan najis berhubungan dengan sifat benda itu sendiri. Karena berhubungan dengan hukum syar’i maka ketentuannya tidak dapat berubah, sebagaimana ditetapka oleh Syaari’ Allah subahnahu wa ta’ala dalam al-Qur’an maupun Nabi Muhamad saw melalui haditsnya.  Sedangkan Najis, yang berhubungan dengan sifat benda, maka bisa saja diubah sifat benda tersebut sesuai dengan kaedah fiqhiyah. Misalnya, baju yang terkena ompol bayi itu najis, tapi dapat dihilangkan najisnya jika dicuci. Tidak demikian dengan Haram, sekali syariat telah menghukuminya sebagai barang haram, maka keharman itu melekat selamanya dan tidak bisa dihapus. Dimasak dengan cara apapun babi tetap haram.

Untuk lebih jelasnya harus ada batasan antara haram dan najis. Penjelasan inilah yang dalam kaedah fiqih disebut tashawwur yaitu penggambaran sesuatu melalui ta’rif atau definisi.
Adapun batasan haram menurut kitab lathaiful isyarat fil ushulil fiqhiyat halaman 12 adalah:
وضابط الحرام عكس ضابط الواجب فهومايثاب على تركه امتثالا ويعاقب على فعله

Artinya: pengertian haram adalah kebalikan dari pengertian wajib. Yaitu sesuatu yang diberikan pahala jika meninggalkannya karena alasan menjunjung perintah. dan disiksa jika melakukannya.

Sedangkan batasan najis menurut kitab nihayatul muhtaj ila syarhi minhaj karya Syekh Ar-Ramly juz I halaman 215
وعرفها بعضهم بأنها كل عين حرم تناولها على الاطلاق فى حالة الاختيار مع سهولة التمييز لالحرمتها ولالاستقدارها ولالضررها فى بدن او عقل

Artinya: Sebagian ulama memberikan batasan terhadap najis bahwa setiap sesuatu yang haram digunakan secara muthlaq dalam keadaan normal, serta mudah memisahkan bukan karena penghormatan dan bukan karena kotor dan bukan pula karena mudharat terhadap badan ataupun akal.  (disarikan dari buku Muallim Syafi’i Hadzami, Taudhihul Adillah, 100 Masalah Agama Jilid I. )


MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC
READ MORE - NAJIS DAN HARAM

Minggu, 14 Oktober 2012

SOSOK AL GHAZALI

Figur dan Perjalanan Hidup Al Ghazali Menuju Tasawuf

Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, lahir di Ghazaleh--sebuah kota kecil dekat Thus di Khurasan --pada tahun 450 H/1058 M, 5 empat setengah abad setelah hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah (W. Montgomery Watt, Muslim Intelectual A Study of Al-Ghazali, Edinburgh at The University Press, 1963, hal. 19) dan kira-kira bersamaan dengan pengangkatan Sultan Alp Arselan ke singgasana Saljuk. Ia meninggal dunia pada usia sekitar lima puluh lima tahun, pada tahun 1111 M. ( W. MontGomery Watt "Ghazali, Abu Hamid Al-" dalam Mircea Eliade (Ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol 5, Macmillan Publishing Company, New York & London, hal 541) di Tabaran, sebuah kota dekat Thus. ( Abdul Qayyum, Letters of Al-Ghazali, diterjemahkan oleh Haidar Baqir, Surat-surat Al-Ghazali, Cet. V, Mizan, Bandung 1993, hal. 1) Al-Ghazali menghabiskan beberapa waktu pada salah satu sekolah agama di daerahnya dan belajar fiqh serta dasar-dasar ilmu Arab kepada Ahmad bin Muhammad al-Radzkani pada tahun 465 H/1073. ( Umar Farrukh, Tarikh al-Fikr al-Araby, Dar al-Ilm Li al-Malayin, Beirut, hal. 485; Pengantar Ahmad Syamsuddin dalam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Majmu'at Rasail al-Imam al-Ghazali : Al Munqidz min al-Dlalal, Qanun al-Ta'wil, Al Ahadits al-Qudsiyah, Dar al- Kutub al--Ilmiyah, Beirut, Libanon, Cet. I, 1988, hal 5.) Pada saat berusia kurang dari dua puluh tahun, ia pindah ke Jurjan untuk belajar kepada seorang Imam madzhab Syafi'i, ahli hadits, dan ahli sastra yaitu Imam al-Allamah Abu Nashr al-Isma'ili Al Jurjani (404-477 H). Dari Syekh Ismail, Ghazali menuliskan sejumlah komentar dalam masalah Fiqh. ( Ibid, hal. 485) Di Jurjan, ia mulai menuliskan ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya. (Thaha Abd al Baqi Surur, op.cit., hal. 19) Namun, di tempat ini, tampaknya al-Ghazali tidak mendapat keun-tungan rasional dari apa yang ia tulis dan ia dengar. Dia mem-baca dan menulis dengan cepat tanpa memberikan perhatian. (Lihat Thaha Abd al Baqi Surur, op.cit., hal. 19-20. Dalam buku ini dikisahkan penuturan al-Ghazali: "Suatu saat ka-mi dirampok (Barangkali pada saat kepulangannya dari Jurjan, pen.). Para perampok merampas semua yang kami dan membawanya pergi. Akan tetapi, kami selalu mengikuti ke mana mereka pergi. Pemimpin perampok tersebut marah besar dan mengatakan: "Pulang-lah kamu. Kalau tidak kamu akan binasa". Saya jawab: "Saya mohon Anda mengembalikan catatan kuliah saya". Dia bertanya: "Yang manakah catatan kamu?". Saya jawab: "Yang ada dalam bung-kusan itu. Demi untuk mendengarkan, menulis dan mengetahui ilmu itulah saya pergi mengembara". Serta merta Sang pemimpin peram-pok itu tertawa berderai seraya mengejek : "Bagaimana kamu bisa mengetahui ilmunya, padahal buku itu sudah kami rampas dan kamu tidak bisa mengetahuinya lagi." Kemudian dia memerintahkan sebagian anak buahnya mengembalikan bungkusan itu kepada saya. Peristiwa itu menimbilkan pengaruh yang begitu besar dalam jiwa saya...Ketika sampai di Thus, saya segera berkonsentrasi selama tiga tahun hingga saya hafal semua yang saya pelajari. Andaikan dirampok lagi saya tidak akan bingung)

Dari Jurjan, al-Ghazali kembali ke Thus. Di sini, selama tiga tahun ia berkonsentrasi mempelajari ilmu yang dia pelajari di Jurjan sebelumnya sehingga dia hapal semua yang dipelajari-nya. ( Thaha Abd al Baqi Surur, op.cit., hal. 21.; Watt, op.cit, hal. 21) Selanjutnya ia berangkat ke Nisapur, kota di Khurasan yang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan penting di dunia Islam pada saat itu,dan belajar di sana.

Disana, ia berguru pada salah seorang teolog Asy'ariyah, Abu al-Ma'ali al-Juwaini yang dikenal dengan sebutan Imam al-Haramain, guru besar di madrasah al-Nizamiah Nisapur. Mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini antara lain: teologi, fiqh, ushul fiqh, filsafat, logika, sufisme dan ilmu alam. ( Ahmad Syamsuddin dalam al-Ghazali, Majmu'at Rasail al-Imam al-Ghazali : Al Munqidz min al-Dlalal, hal. 5)

Fase ini dipandang sebagai fase yang paling memiliki pengaruh dalam sejarah kehidupan al--Ghazali dan starting point keraguan-keraguan yang menimpa jiwa-nya. ( Ibid.)

Setelah wafatnya Imam Haramain (478 H/1085), al-Ghazali pergi ke Istana Nizamul Muluk di Nisapur. Nizamul Muluk dikenal sebagai orang yang dekat dengan ulama dan para sastrawan. Di sana, Nizamul Muluk kagum pada peguasaan ilmu al-Ghazali dan kemampuannya dalam bertukar pikiran. Kekaguman ini kemudian me-ngantarnya pada posisi sebagai pengajar di Madrasah Nidzamiyah Baghdad setelah penunjukan dirinya oleh Nizamul Muluk untuk me-nempati posisi tersebut pada tahun 484 H./1091. (Umar Farrukh, op.cit, hal. 486; Ahmad Syamsuddin, op.cit, hal. 6) Dari penunju-kannnya ini, al-Ghazali memulai sebuah tahap kehidupan barunya di Baghdad. Ia masuk ke kota Baghdad disaat ia menginjak peng-hujung usia mudanya. Di sana ia mendapat keagungan dan kemasyhuran yang meluas.

Dalam fase kehidupannya di Baghdad ini, al-Ghazali melakukan pengembangan dan perluasan ilmunya melalui aktifitas yang intensif dalam penelitian dan pengkajian. Ia mempelajari filsafat secara mendalam dan mengkaji kitab-kitab para filosof terdahulu seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. Wujud dari studi intensifnya ini adalah tersusunnya kitab "Maqasid Al-Falasifah" dan karya fenomenalnya dalam bidang filsafat "Tahafut Al-Falasifah" yang merupakan kritik tajamnya terhadap beberapa pendapat bebe-rapa filosof. (Ahmad Syamsuddin, Ibid, hal. 6)

Di samping itu, al-Ghazali juga melakukan kajian yang mendalam pada sejumlah pemikiran dalam berbagai bidang yang berkembang pada masanya, yang kemudian melahirkan beberapa kritiknya terhadap empat kelompok aliran pemikiran yang sedang berkembang pada masa itu, yakni teolog, filosof, aliran bathiniyah, dan kaum sufi. (Abu Hamid al-Ghazali, Al-Munqidz min al-Dlalal, Damascus, tp, 1934, hal.13. Kritik-kritik al-Ghazali itu secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kepada teolog, al-Ghazali berkomentar bahwa mereka mengasas-kan dalil-dalilnya pada karya para filosof untuk menopang paham teologinya atau mematahkan pendapat lawannya dari kalangan fi-losof maupun teolog lain. Pada masa itu, teologi telah berpadu dengan filsafat. Akibatnya, sebagian orang mengira bahwa kedua-nya sama, seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya.(Ibn Khaldun, Al- Muqaddimah, Al-Mathba'ah al--Bahiyyah, Kairo, tt., hal.327) Kebanyakan yang mereka dalami hanya untuk menyatakan kontradiksi-kontradiksi pendapat lawan, dan mengkritiknya dengan postulat-postulat mereka sendiri. Pe-ngenalan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, tidak akan ter-capai lewat teologi, Malah hampir menjadi penghalang...banyak-nya perdebatan agama dengan cara para teolog dan penyianyiaan waktu dalam detail-detail ilmu mereka, menghalangi manusia yang ingin meraih kesempurnaan ruhaniah. (Abu Hamid al- Ghazali, Al Munqidz min al-Dlalal, op.cit., hal.9. Lihat pula Ihya Ulum al--Din, Jilid I, Al Babi al-Halabi, Kairo, 1334 H, ahl. 36 dan 68)
2. Terhadap filosof, al-Ghazali melancarkan kritik yang cukup keras. Menurutnya ada tiga kekeliruan mendasar para filosof. Pertama, pendapat mereka tentang qadimnya alam semesta. Kedua, ...lanjutan...pendapat para filosof bahwa Allah hanya mengetahui totalitas, tidak mengetahui detail-detail. Ketiga, pengingkaran para filo-sof terhadap kebangkitan fisik di akhirat kelak. Secara leng-kap, di dalam Tahafut al Falasifah, diungkap kritik al-Ghazali terhadap filosof yang seluruhnya berjumlah duapuluh poin. Dalam makalah ini hanya disebut tiga hal.
3. Aliran Bathiniyah atau Ta'limiyah, yaitu madzhab Syiah Isma'iliyah, juga mendapat kritik dari al-Ghazali. Pada masa al-Ghazali, aliran bathiniyah mendapat banyak pengikut. Mereka berpendapat bahwa mereka mendapat mendapat petunjuk dari Imam yang ma'shum (terjaga dari dosa). Pendapat ini ditentang al-Ghazali dengan menyatakan bahwa yang ma'shum hanyalah Nabi Muhammad. Pendapat mereka tentang ilmu batin sama sekali tidak berdasar. Rasulullah bersabda : "Aku menetapkan hukum atas segala sesuatu yang menggejala, sementara yang dirahasiakan dibalik itu, hanya Allah yang mengetahuinya. (Abu Hamid al--Ghazali, Al-Munqidz min al-Dlalal, op.cit, hal. 24-25) Golongan ini menurut al-Ghazali bukanlah termasuk kelompok yang dapat mencapai kebenaran yang hakiki
)

Saat itu, disiplin ilmu-ilmu agama, bahkan keberagamaan itu sendiri, tampaknya telah menjadi sangat formalistis. Agama ketika itu telah diperlakukan sebagai obyek kajian (obyek material) dari beberapa sudut pandang dan untuk mengejar kepentingan-kepentingan profan ketimbang sebagai ajakan ilahi agar manusia dapat mencapai keluhuran budi dan keluhuran ruhani. Ilmu fiqh, Ilmu kalam, dan filsafat adalah kajian eksoteris yang telah kehilangan dimensi 'dalam'-nya, dan menampakkan diri sebagai seni perdebatan--secara sinis, sebagai semata dialekti-ka pemikiran dan akrobatik verbal--dari kaum intelektual yang mengharapkan popularitas dan kedudukan. (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, op.cit., Jilid I, hal. 3-5) Dalam pandangan al--Ghazali, kehidupan dan perkembangan ilmu, apalagi ilmu agama, tanpa kandungan nuansa ruhaniah adalah percuma.

Setelah rampung mengkritik para teolog, filosof, dan penganut aliran batiniyah, al-Ghazali mulai mengkaji karya--karya sufi secara mendalam. ( Mahmud Hamdi Zaqauq, Al-Manhaj al-Falsafi baina al--Ghazali wa Dikart, diterjemahkan dengan judul Al-Ghazali Sang Sufi Sang Filosof, Pustaka, Bandung, 1981) Akhirnya ia tertimpa krisis psikis yang sangat kronis, karena ia tahu betapa senjangnya antara kehidupan sufi dan jalan yang ditempuhnya saat itu; yang pres-tisius, mencari ketenaran dan kekayaan. (Syed Amir Ali, op.cit., hal. 463) Krisis ini berlangsung selama enam bulan dan membuatnya menjadi sangat lemah.

Agaknya, hal tersebut timbul karena ia hendak bertindak jujur terhadap dirinya sendiri. Ia sadar bahwa motivasinya mengajar ilmu-ilmu, pada awalnya, tidak lain adalah hanyalah untuk memperoleh jabatan dan membuatnya terkenal, yang ia sadari betapa rendahnya motivasi itu. Untuk itu ia berusaha melepaskan diri dari sikap yang demikian.

Akibat krisis ini, al-Ghazali meninggalkan kedudukannya sebagai guru besar di perguruan Al-Nizamiyah pada tahun 488 H/1095 M. Ia berhenti mengajar dan ber-uzlah selama sepuluh tahun. ( Kejadian uzlah-nya itu secara detail diungkap sendiri oleh Al-Ghazali dalam al-Munqidz min al-Dlalal bab Thuruq al-Shufiyah: "Lalu kualihkan tatapanku ke jalan para sufi. Kuketahui ia tak dapat dilintasi ke ujungnya tanpa ajaran dan amalannya. Dan bahwasanya inti ajarannya terletak pada pengendalian nafsu badaniah dan keberhasilan dalam membersihkan watak-watak jahat dan sifat-sifat keji, hingga hati bersih dari segalanya kecuali Allah. Dan makna pembersihan ini adalah makna dzikir Allah, yakni mengingat Allah dan mencurahkan segala pikiran pada-Nya. Bagiku kini ajarannya lebih mudah ketimbang amalan-amalannya, maka mulailah kupelajari ajaran mereka dari berbagai kitab dan tuturan para syeikh mereka, hingga kuperoleh jalan mereka dengan belajar dan menyimak, dan dengan jelas kulihat bahwa hal-hal paling ganjil pada mereka tak dapat dipelajari, melainkan melalui pengalaman, ektase, dan perubahan batiniyah. Yakinlah aku bahwa kini telah kuperoleh semua pengetahuan tasa-wuf yang bisa dicapai melalui belajar. Selebihnya, tiada jalan kepadanya melainkan dengan mengikuti kehidupan para sufi.
Setelah itu, kulihat diriku sebagaimana adanya. Segenap pamrih duniawi melanda diriku. Bahkan pekerjaanku sebagai gurupun, suatu amalan yang terbaik, tampak sia-sia dan tiada manfaat ukhrawi, manakala kuperhatikan tujuannya aku melakukan semua itu bukan demi Allah, tetapi untuk kemegahan dan reputasi. Ku-sadari bahwa diriku berada di tepi jurang dan nyaris jatuh ke dalam api neraka jika tak segera kuperbaiki jalan--jalanku...Sadar akan ketakberdayaan, seraya mengerahkan segenap kemauan, kucari perlindungan kepada Allah, ibarat orang dilanda kesulitan tanpa berdaya lagi. Allah mengabulkan doaku, dan me-mudahkan aku berpaling dari kemasyhuran, kekayaan, isteri, anak-anak, dan sahabat."
)

Sejak pengunduran diri hingga saat wafatnya tahun 505 H/1111 M, al-Ghazali menjalani kehidupan sederhana sebagai seorang sufi, di samping selingan aktifitas belajar dan menyusun sejumlah kitab. ( A.J. Arberry, Ibid, hal. 103) silahkan baca juga IMAM AL GHAZALI


MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC


READ MORE - SOSOK AL GHAZALI

Kamis, 06 September 2012

PENGERTIAN TAUHID

Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga:
Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.

Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).
Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll.
Di nyatakan dalam Al Qur’an: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1)

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang.
Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an: وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ “Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)

 وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ “Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)

Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.
Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah)

Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.

Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17)
.
 Dalilnya: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)

Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya.
Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah.
Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga saja ada guna serta manfaatnya bagi kita semua Aamiin Wassalam

 MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC
READ MORE - PENGERTIAN TAUHID

TETAP ISTIQOMAH DALAM KEBAIKAN DAN KEBENARAN

Bismillahir-rahmanir-Rahim

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh...

Saudaraku...."
INGATLAH !!! HIDUP INI ADALAH SEBUAH PERJALANAN YANG HARUS KAU TEMPUH DENGAN KESUNGGUHAN DAN KEISTIQOMAHAN, diatas landasan IMAN,TAUHID dan KETAATAN serta KEIKHLASAN dalam Beramal...

Jika dalam perjalanan perbuatan baik dan benar [apa pun] yang kau lakukan 'dianggap' Salah....,malah mungkin engkau mendapat Hinaan,Cacian dan bahkan Makian dari 'mereka' maka,..untuk sementara hindari saja dulu mereka.!!!

Dan do'akan saja 'mereka', agar segera mendapat Hidayah dan Pertolongan Allah 'Azza Wa Jalla..

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam, saat Beliau Shallallahu'Alaihi Wasallam mendapat perlakuan sangat buruk dari penduduk Tha'if.

Nabi Shallallahu'Alaihi Wasallam, mendo'akan penduduk Tha'if agar mereka mendapat Hidayah dan Pertolongan Allah SWT....

Do'a Nabi Shallallahu'Alaihi Wasallam, di ijabah Allah SWT dan saat pendudukan kota Makkah, maka penduduk Tha'if lah yg menjadi salah satu kelompok yang membela dan berjuang bersama Rasulullah Shalallahu'Alaihi Wasallam,

Dan juga, selain 'mereka', masih banyak orang-orang yang sedang berharap untuk kau ajak untuk berbuat BAIK dan BENAR.. juga Orang-orang yang selalu siap dalam Kebaikan dan Kebenaran...
Maka....,tetaplah untuk Istiqomah dalam kebaikan dan kebenaran, diatas landasan Iman,Tauhid dan Ketataatan serta Keikhlasan dalam beramal baik dan benar...

InsyaAllah..engkau akan menjadi pribadi yang berbahagia dan Mulia...bukan saja hanya Bahagia dan Mulia didunia, namun hingga diakhirat kelak.

Sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT,dalam Firman-Nya,yang artinya :“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):

“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat: 30)

Yang dimaksud dengan istiqomah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli tafsir:

1. Istiqomah di atas tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Shahabat Abu Bakr Ash Shidiq dan Mujahid,RA.

2. Istiqomah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Shahabat Ibnu ‘Abbas, Al Hasan dan Qotadah,RA.

3. Istiqomah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan As Sudi.RA.

Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah RA, beliau berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu [dalam hadits Abu Usamah dikatakan, "selain engkau"].

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah“, kemudian beristiqamahlah dalam ucapan itu.” Ibnu Rajab Rah, mengatakan, “Wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya.”

MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC
READ MORE - TETAP ISTIQOMAH DALAM KEBAIKAN DAN KEBENARAN

Bengkel Mobil EDY PUTRA jepara Jl, Cik lanang62 Rt04/05 Kauman jepara jawa tengah-59417,,Call +6287 746 002 557 - +6285 291 522 655 - +6288 215 015 057